
sedang asyik tersenyum sipu,
saat khabarannya jua tiba,
merantai erat simpulan senyum,
terkaku bisu di lorong terang,
sudah terbatas cahaya riang ..
mengapa mesti jatuhnya titisan lara,
deras kencang tanpa berkedipan mata,
terimbau sejenak dosa,
kianku mengabai kasih,
pada seorang ayahanda gebleh,
dia yang tabah mengutus rindu,
tanpa bosan dan jemu,
tak lesu mengagih kasih,
tak jenuh menaburkan air mata,
kepada yang maha esa...
kenapa saat ini aku resah,
kenapa pipiku tak henti henti lagi basah,
dan kenapa nafasku berdekah,
dimana silapku pada ayah,
jangan!!
ayah sanggup merela untuk pergi,
sebelum aku merenjis budi dan bakti.
tidak lagi berdaya ku hiasi kamar hati,
untuk mencoret selempar senyuman.
hanya kini padaku berteraskan doa,
dan berpaksikan amal amalku,
sebagai benteng tawakkalku padaMU,
agar kau lanjutkanlah hidup ayahandaku,
yang aku sayang ,
yang aku rindu,
andai nyawa boleh bertukar ganti,
akan aku redo menjadi pengganti,
subhanallah,alhamdulillah,allahuakhbar..