Hari ini ,
Penuh duri
dalam hati,
Kian tandus
bahang percintaan,
Dalam karya
penceritaan,
Dalam lurah
nurani.
Akanku
sentap rasa sugul,
Perluku
buang bisik gemersik hambar,
Berteleku
bermusim aku disini,
Terpuput
penat ,bertebaran umpat,
Sebenarnya
disini masih terlahir serumpun nista,
Berlumang
paduan dosa dosa.
Adakalanya,
Seperti
engkau berbicara di ujung jalan,
Agar tenang
menghadap sasaran,
Agar sabar
menentang tentangan,
Meski tiada
penasihat jiwa,
Ataupun
seganggang puisi keratan kata semangat,
Kadangnya
terlintas sebuah sketsa,
Yang dahulu
direncanakan aku,
Alahai,
Jadilah diri
kita yang sebenar,
Jangan
selimuti dirimu dengan malu,
Biar
sekarang tidak terpancar,
Asal kelak
mampu melulu.
Alahai,
jangan jadi
seperti
Penjual rupa
tercatuk dikaki lima,
Jangan jadi
daun tersangkut dibumbung bangunan,
Tidak
terpinggir dek manusia sejati,
Memeras
kudrat untuk sesuap nasi,
Asalkan
tercatat ditabir akhirat......
Suatu epilog
ranting ranting sukma,
Yang
permulaan bermanifestasi cinta,
Dan kemuncak
bersekutu si dendam segala,
Terlupa
sejenak hala pancaindera utama.

Kita tidak akan sesekali dapat menjangka,
ReplyDeleteApa yang Allah aturkan buat kita,
Adakala kita tersangat gembira.
Adakala kita tersangat tidak suka,
Aturan-Nya bukan pilihan kita,
Dia tidak akan menduga hamba-Nya,
Kecuali untuk melihat hamba-Nya,
tersenyum di sana,
tertawa di sana,
berbahagia di sana,
Di syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai yang mendamaikan jiwa.
....
p/s : just copy n paste... ak x pandai :) tp terase nak comment...hehe
This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteTerima kasih
ReplyDelete