seuntai kata untuk dirahsia,
seribu ungkapan berkeranda,
pemiliknya masih lasak dan berpencak,
tapi hatinya selalu saja bergolak..
bibirnya merah dan berserah,
hayatnya terbang bersama al kisah,
daya dan maya telah ternoda,
oleh sang penduga sempurna.
ramuan dan adunan pada kendiri,
sebati bersama sendi yang menjadi,
supaya bergerak dengan langkah,
kenapa dirinya lemah bermahabbah.
musafir berjalan bergaya pentafsir,
hentiannya mengubati ribuan fakir,
agaknya kalau tempohnya hampir,
bisa lagikah dia?
untuk menafsir lelaki itu.
sudah menjadi koleksi pada hatinya,
kepelbagaian aneka pilu berkecamuk,
sudah tiada cahaya dan seri seri senyuman,
pada dia lelaki yang semakin berganti,
lelaki itu bermusim mengalami dan menghayati,
terus beradegan dengan kepuraan pendiri
an,
tiada manusia mampu menterjemah,
walau dengan gaya dan harta...